Whatsapp Image 2026 05 08 At 16.37.56 (1)

Belajar dari Karst yang Menghijau: Komisi II DPRD Kalteng Tinjau Persemaian Permanen Gunungkidul

YOGYAKARTA – Komitmen untuk memulihkan paru-paru dunia dan menjaga stabilitas ekosistem perairan membawa rombongan Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menapakkan kaki di jantung konservasi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam rangkaian kunjungan kerjanya, delegasi dari Bumi Tambun Bungai ini menyambangi Persemaian Permanen BPDAS Serayu Opak Progo yang berlokasi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (08/05/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk membedah strategi hulu dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta reboisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dinilai berhasil mengubah wajah Gunungkidul dari kawasan karst yang tandus menjadi zona hijau yang produktif.

Persemaian: Jantung dari Strategi Reboisasi

Rombongan Komisi II DPRD Kalteng melihat langsung bagaimana ribuan bibit pohon diproduksi secara massal dan sistematis. Persemaian Permanen ini bukan sekadar tempat pembibitan biasa; ia adalah pusat logistik ekologis yang menyediakan amunisi hijau untuk memulihkan lahan kritis di sepanjang aliran sungai Serayu, Opak, dan Progo.

Ketua delegasi mengungkapkan kekagumannya terhadap manajemen bibit yang diterapkan. Di Kalimantan Tengah, tantangan rehabilitasi seringkali terbentur pada luasnya wilayah dan aksesibilitas. Di Gunungkidul, mereka mempelajari bagaimana penyediaan bibit berkualitas tinggi—mulai dari tanaman kehutanan hingga Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti alpukat dan durian—menjadi kunci keberhasilan reboisasi.

“Kami melihat bahwa di sini, reboisasi bukan hanya soal menanam kayu, tapi menanam harapan ekonomi bagi masyarakat. Jika masyarakat merasa memiliki manfaat ekonomi dari pohon tersebut, mereka akan menjaganya tanpa perlu diperintah,” ujar salah satu anggota Komisi II dalam diskusi di lapangan.

Sinergi DAS dan Rehabilitasi Lahan Kritis

Diskusi hangat terjadi saat membahas keterkaitan antara persemaian dengan pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS). Pihak BPDAS Serayu Opak Progo menjelaskan bahwa pemilihan jenis pohon di persemaian disesuaikan dengan karakteristik topografi DAS. Tanaman dengan akar tunjang yang kuat diprioritaskan untuk daerah tangkapan air guna mencegah sedimen masuk ke sungai yang dapat menyebabkan pendangkalan.

Poin-poin penting yang menjadi catatan Komisi II DPRD Kalteng meliputi:

  • Standarisasi Bibit: Memastikan hanya bibit unggul yang keluar dari persemaian untuk menjamin tingkat keberlangsungan hidup (survival rate) yang tinggi di lahan kritis.

  • Pendekatan Vegetatif: Strategi reboisasi yang mengombinasikan fungsi lindung dan fungsi produksi.

  • Edukasi Masyarakat: Melibatkan kelompok tani hutan dalam proses pembibitan hingga penanaman.


Membawa “Resep” Hijau ke Kalimantan Tengah

Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen Komisi II DPRD Kalteng untuk mengadopsi beberapa model manajerial persemaian di Yogyakarta guna diterapkan di Kalteng. Mengingat Kalteng memiliki DAS yang sangat luas dan lahan bekas tambang yang memerlukan rehabilitasi serius, pola “intensif dan terukur” dari Gunungkidul dianggap sebagai referensi yang sangat berharga.

“Yogyakarta membuktikan bahwa dengan kemauan politik dan teknis yang kuat, lahan yang dulunya kering kerontang bisa kembali subur. Semangat inilah yang akan kami bawa pulang ke Kalimantan Tengah,” pungkas pimpinan rombongan.

Dengan berakhirnya kunjungan ini, diharapkan sinergi antara kebijakan legislatif dan eksekusi teknis di bidang lingkungan hidup dapat semakin solid, demi mewujudkan hutan yang lestari dan sungai yang terjaga bagi masa depan Indonesia. (hms)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top